Call of Duty: Modern Warfare 3 Review (Single Player only)



PROLOG
Walaupun sempat mengalami konflik internal yang parah pada tahun lalu, akhirnya Infinity Ward (IW) berhasil menyelesaikan seri kedelapan dari game 1st person shooter yang sangat terkenal di dunia, Call of Duty Modern Warfare 3 (COD 8/MW 3) pada bulan ini, dengan tepat waktu tanpa ada penundaan jadwal perilisan yang lama. Mereka berhasil mengembangkan COD 8 berkat bantuan dari beberapa pengembang game lainnya, diantaranya ialah Sledgehammer Games dan Raven Software. Akankah bantuan dari ketiga pengembang game besar itu (ups, Sledgehammer itu masih pengembang game baru) bisa menjadikan COD 8 menjadi game yang jauh lebih bagus daripada seri-seri COD terdahulu atau menjadi game yang lebih bagus daripada Battlefield 3 (BF 3)?




STORYLINE
COD 8 ini masih mengambil tema perang modern yang sama seperti seri MW 1 dan 2, yakni perang di masa kini atau bisa dibilang bertemakan pada era waktu yang tak jauh dari masa sekarang. Alkisah, mantan anggota Pasukan Task Force 141 Kapten John "Soap" MacTavish, mantan pasukan SAS Kapten John Price dan informan asal Russian sekaligus teman dekat dari Kapten Price, si "Nikolai", ketiganya menjadi buronan internasional seusai membunuh Letnan Jendral Sheperd. Si Kapten Soap yang terluka parah sehabis di tusuk oleh Sheperd, sedang menjalani pengobatan di suatu wilayah di satu desa terpencil di India, namun mereka mendadak di serang oleh sekelompok Pasukan Ultranasionalis Rusia, yang dipimpin oleh sang teroris besar, Vladimir Makarov. Mau tak mau, Kapten Price menugaskan Yuri, seorang mantan anggota pasukan Spetsnaz untuk membantu mengevakuasi kembali si Kapten Soap, ke tempat aman lainnya. Mereka berdua secara bahu membahu beserta beberapa pasukan khusus Amrik lainnya yang masih setia dengan Kapten Soap dan Price, saling berjuang bersama untuk mengalahkan pasukan Rusia tersebut. 

Sementara itu di saat yang hampir bersamaan, angkatan perang Amrik sedang berusaha mati-matian untuk menghancurkan kekuasaan militer Rusia di Kota New York. Maka Pentagon juga memerintahkan pasukan Delta Force untuk membantu pasukan Amrik lainnya dalam pertempuran tersebut. Satu diantara anggota Delta Force itu ialah Sersan Derek "Frost" Westbrook, yang ikut bertempur di salah sudut New York itu, terutama berperang di gedung Bursa Saham New York. Beberapa bulan kemudian, perang besar antara Amrik dengan Rusia mulai surut dan pihak Presiden Rusia sendiri, Boris Vorshevsky berniat mau berdamai dengan pihak Amrik di KOta Hamburg, Jerman. Sayangnya, perjalanannya terhambat gara-gara pembajakan oleh para anak buah Makarov dan ia sendiri berhasil diculik, sehingga perundingan damai antara Rusia dan Amrik menjadi tak menentu. Di kemudian hari usai drama penculikan, pasukan ultranasionalis Rusia sukses menyusup jauh ke berbagai ibukota negara di Eropa Barat, dan melancarkan serangan senjata pemusnah massal berupa bom kimia. 

Akibatnya, banyak warga sipil menjadi korban tewas dan pasukan militer Rusia melancarkan invasi militer secara mendadak ke benua Eropa. Perang Dunia III pun meletus di Eropa. Wow, benar-benar super, ohohoho... Dalam beberapa hal, tema perang dunia III dalam mode single player (SP) itu sekilas sama seperti apa yang telah terjadi di BF 3. Bedanya kalau di mode single player BF 3, gamer bisa mencegah kemunculan Perang Dunia III sebagai hasil dari penyerbuan Amrik ke Iran yang diduga menyembunyikan senjata nuklir serta dipimpin oleh seorang teroris. Maka di COD 8, gamer takkan bisa mencegah kemunculan perang dunia III, gara-gara Rusia berhasil menyerang Amrik dan Eropa secara tiba-tiba. Di game BF 3, akan terlihat sosok negara Amrik yang benar-benar negara superpower dengan para tentara biasa yang super hebat, karena mampu mencegah munculnya ledakan nuklir secara tepat waktu. Tetapi di COD 8, semua sifat dari karakter utama terlihat lebih membumi, bahkan negara Amrik sejak seri MW 1 yang terlihat sangat kuat, bisa dibuat terlihat tak berdaya, bahkan hingga ke seri MW 2 dan 3 ini. 

Yup, pihak IW mampu menggambarkan bahwa Amrik itu bukanlah negara superkuat seperti yang terlihat di berbagai game action shooter bertema militer Amrik ataupun film-film action Holiwood lainnya. Pihak Amrik gagal mencegah ledakan nuklir di suatu negara Arab (Irak???), lima tahun kemudian mereka gagal menangkal invasi Rusia ke tanah airnya sendiri, bahkan mereka juga sekaligus harus berjuang mati-matian membantu para negara sekutunya di benua Eropa dalam menghadapi serbuan militer secara masif oleh Rusia, yang melakukan perang konvensional. Sebagaimana tradisi dari berbagai seri COD yang telah berlalu, gamer akan memerankan berbagai karakter yang berbeda, selain si Yuri dan Frost, gamer juga akan berperan sebagai anggota SAS, Sersan Marcus Burns dan Andrei Harkov, seorang anggota Pasukan Pengawalan Presiden Rusia. Keempat karakter itu akan memberikan berbagai sudut pandangan akan pengalaman Perang Dunia III yang berbeda-beda. Kapten Soap kini hanya menjadi NPC, sama halnya dengan si Nikolai, bagaimana dengan Kapten Price?? Gamer baru bisa memerankannya di akhir cerita saja. 




Bagi sebagian gamer, mungkin alur cerita dalam Call of Duty, terutama seri MW 1-3 ini akan terasa sangat klise dan membosankan, dan mungkin sebagian lainnya akan menyatakan hal yang sebaliknya. Bagi penulis, cerita dalam COD 8 ini terasa tak membosankan, meski memang terlihat klise. Mengapa bisa begitu?? seperti yang sudah penulis jelaskan sebelumnya, cerita MW 3 ini sangat berkait erat dengan MW 1-2, dan keterkaitan cerita tersebut tak terlihat dipaksankan melainkan justru terlihat mulus, saling sambung menyambung dengan rapi jali. Belum lagi sifat penokohan para karakter utama di COD 8 ini yang masih mengedepankan sosok-sosok ikonik dari COD 4, dan sifat karakternya yang lebih alami daripada yang ada di BF 3. Negara Amrik lagi kepayahan, selain tanah airnya sempat diinvasi oleh Rusia, mereka juga masih harus mengurusi berbagai wilayah konflik militer lainnya, selain di benua Eropa. Pasukan Eropa Barat pun juga tak berdaya dalam menghadapi serbuan tentara Rusia. Maka, akan terlihat jika satu persatu para karakter utama di game ini tewas, sebagai bagian dari korban Perang Dunia III. 

Kualitas cerita di COD 8 ini sebagus seperti di MW 1. Walaupun ending-nya mungkin akan banyak yang bisa menebaknya, namun pada akhirnya, hanya ada satu tokoh utama saja yang mampu bertahan hidup dari kejamnya Perang dunia III itu. Yang pasti, meski masih bersifat linier tapi unsur ceritanya lebih memuaskan daripada cerita di BF 3, sebab IW memberikan kesimpulan akhir dari kisah "trilogi" Modern Warfare ala Call of Duty. Semoga. Amin.



GAMEPLAY
Mode SP dari MW 3 terdiri dari dua bagian besar yakni mode cerita kampanye dan mode Special ops. Mode cerita kampanye terdiri dari tiga bab dan masing-masing bab terdiri dari beberapa sub bab cerita, serta sifat gameplay COD 8 masih berupa close ended. Dan sepanjang cerita kampanye, isinya dipenuhi dengan berbagai adegan aksi ala film-film holiwud kelas satu, dimulai dari serangan mendadak ke satu desa terpencil di India, hingga ke pertempuran yang brutal di gedung Bursa Saham New York, hingga penyusupan ke negara Sierra Leone dan Somalia di AFrika, lalu balik ke misi penyergapan di LOndon dan Paris, ikut misi penyerbuan ke Berlin, Praha, SIberia, serta berakhir dengan menyerang ke satu hotel terkenal di satu kota di wilayah UEA. Perjalanan mengelilingi dunia itu bukan melalui jalur wisata yang damai dan aman tentram, akan tetapi malah sebaliknya, penuh dengan adegan baku tembak yang seru dan para korban perang yang terus berjatuhan diantara kedua belah pihak yang saling bertikai.

Di COD 8 ini, Gamer takkan menemui skenario perang yang terlalu kaku ataupun akan menjalani fitur quick time event yang begitu banyak bermunculan, seperti halnya jika gamer memainkan mode SP pada BF 3. Semisal misi menghancurkan menara jamming milik Rusia di Kota New York, dimana gamer takkan sering mengalami kematian mendadak jika tak mengikuti arah larinya dari sang komandan tim. Berbagai pertempuran yang ada seusai di peta level itu, akan terlihat sangat variatif, dimulai dari misi menyelam, menyusup ke dalam kapal selam milik Rusia dan berakhir dengan adegan kejar-kejaran dengan menggunakan speedboat, meliuk-liuk diantara reruntuhan kapal perang yang berserakan di wilayah lepas pantai New York. Misi-misi dengan gameplay yang beragam juga terdapat ketika menyerbu ke salah satu kota di Somalia, Afrika. Pertempuran dimulai dengan mendobrak masuk gerbang kota dengan jeep, lalu berperang di jalanan kota, lalu berupaya kabur dari kejaran musuh dengan melalui badai pasir yang sangat besar. Sambil tak lupa untuk membunhi para musuh yang tersisa.

Pada beberapa peta level, membebaskan gamer untuk menggunakan banyak taktik untuk berperang dan menghabisi para musuh. Tidak hanya itu, sebagian besar pertempuran dalam game ini kembali memunculkan sesuatu hal yang telah lama menjadi tema sentral sejak COD 1. Gamer akan sering bertempur bersama-sama dengan banyak para AI team untuk melawan gerombolan tentara musuh, artinya dalam game ini, dalam banyak peta level, gamer takkan berperang sendirian bak seorang rambo. Satu contohnya, misi pendaratan ke sebuah pantai di kota Hamburg, Jerman. Adegan pendaratan pasukan Amrik ke Jerman tersebut, seperti pendaratan tentara Amrik ke sebuah wilayah pantai di COD 2 dalam Perang Dunia II. Gamer akan menyaksikan secara langsung, bagaimana proses operasi militer pendaratan pasukan dalam perang modern di MW 3 ini, yang di awali dengan mendaratkan pasukan infanteri melalui banyak helikopter angkut, dan disusul dengan pendaratan pasukan kavaleri tank, melalui kapal hovercraft militer. 

Entah itu operasi pendaratan sesuai dengan operasi amfibi yang sebenarnya atau tidak, namun para AI team, baik dari pasukan infanteri maupun kavaleri, sedikit demi sedikit akan membantu gamer dalam merebut beberapa titik tertentu dari tangan tentara Rusia. SEemula gamer akan berperang sebagia salah satu anggota pasukan Delta FOrce, namun di peta level yang sama pula, gamer akan sempat menaiki tank sebagai petugas penembak minigun (bukan sebagai penembak meriam utama tank ataupun sebagai sopir tank). Lalu membantu menembaki para musuh yang berkeliaran dengan minigun itu, tank-nya pun yang berjalan otomatis karena dikendalikan oleh AI team, beberapa tank milik teman lainnya juga akan sama-sama membantu gamer untuk menghabisi para tentara Rusia. Perjalanan melalui tank itu tidak hanya melewati jalanan terbuka tapi hingga masuk ke dalam gedung parkir. PIhak AMrik menggelar operasi Amfibi yang penuh resiko itu dalam rangka untuk menyelamatkan nasib Wakil Presiden AMrik yang sedang terjebak di wilayah musuh. 




Memang adegan perang itu telah sesuai dengan skenario yang ada, tapi terasa tak membosankan, karena lebih bervariatif sifat misinya. Jika sudah menamtakan semua misi di cerita kampanye maka agmer bisa beralih ke Mode Special Ops yang muncul kembali di COD 8. Mode SPecial Ops itu terdiri dari dua bagian yakni mode Survival dan Special Mission, masing-masing bisa gamer mainkan secara offline bersama para AI team untuk melawan para AI musuh, atau bisa dimainkan dalam mode Co-op bersama teman-teman manusia secara ONline. Mode Survival itu mirip mode zombie di COD Black Ops, bedanya di COD 8 ini gamer akan menghadapi serbuan musuh secara bergelombang, dan para AI musuh itu berlaku dengan tingkat kecerdasan yang sama bagsunya dengan yang ada di mode cerita kampanya. DI beberapa titik terpenting yang akan sering dilalui gamer, mereka akan menempatkan claymore sebagai jebakan maut bagi gamer. Mereka juga akan spawn secara random setiap gelombang serangan berlangsung, dan akan terus memburu dan menghabisi gamer sampai dapat dengan segala cara. 

Para Ai musuh yang tertembak, kadang atau seringkali tembakan dari gamer meleset dan hanya melukai mereka, bukan membunuh mereka. JIka mereka terluka, mereka akan merangkak mencari tempat yang aman, sambil menembaki gamer dengan pistolnya, seperti biasa yang terjadi di cerita kampanye. Lalu, dari serangan tahap satu hingga puluhan nantinya, akan semakin berat tingkat kesulitannya sebab gamer tidak hanya akan menghadapi prajurit biasa, tapi juga yang ber-armor sangat tebal. Selain itu, AI musuh yang ber-body full armor suit tersebut, juga akan dibantu oleh beberapa helikopter tempur musuh, anjing penyerang yang membawa bom, prajurit bunuh diri dengan bahan peledak atau bom kimia, prajurit infanteri biasa, semuanya akan mengeroyok gamer hingga gamer kehabisan darah dan tewas. Jika tewas maka gamer harus mengulangi lagi dari awal. Dan keasyikan yang utama dari mode survival ini ialah terdapat sistem levelling dengan terus menambahkan EXP point, sehingga gamer bisa meng-upgrade dan membuka berbagai gajet tuk senjatanya. 

Tidak hanya itu, di mode survival ini juga terdapat sistem uang tuk membeli berbagai senjata, gajet dan amunisi, serta perk atau bantuan serangan dari pihak AI team. SEperti memainkan mode MultiPayer OnLine (MP OL) sungguhan, tapi bedanya gamer hanya bermain bersama para AI team/musuh. Jika gamer belum puas dengan apa yang ditawarkan oleh mode survival, maka gamer bisa menamatkan mode Special Mission yang struktur misi-misinya lebih mirip seperti apa yang sudah ditampilkan dalam mode cerita kampanye. Tetapi, misi-misi di mode special mission ini beberapa obyektif utamanya merupakan kisah-kisah di balik layar dari apa yang sedang terjadi di sepanjang alur cerita kampanye. Salah satu obyektif utama di special mission, ialah menyelamatkan sang putri presiden di antara reruntuhan pesawat kepresidena Rusia yang terjatuh, gara-gara pembajakan oelh para pasukannya si Makarov. Semakin tinggi skor yang didapat dalam menyelesaikan di semua obyektif misi di Special mission, juga akan menambah EXP point untuk upgrade senjata dan gajet milik gamer. 

Penulis belum mengetahui, apakah profil karakter yang terdapat di mode special ops itu, semisal gamer sudah mencapai level 22/33 akan juga bisa digunakan untuk memainkan mode MP OL nya. Sebab, ada kabar jika beberapa senjata yang teedapat di mode Special Ops itu tidak akan muncul di mode MP OL, jadi intinya akan ada beberapa senjata yang khusus hanya muncul di mode MP OL ataupun di mode special ops saja. Mode special ops itu, akan sangat berguna bagi gamer sebelum masuk ke mode MP OL yang sesungguhnya, karena bis amelatih gamer dalam hal kecepatan reaksi dan mengadaptasi beberapa jenis senjata serta upgrade gajet yang ada, serta beberapa perk yang ada di COD 8 itu. Dan mode special ops itu jelas lebih bagus daripada apa yang telah muncul sebelumnya di seri-seri terdahulu.



SOUND 
Pengembangan game yang membutuhkan kerjasama langsung antara tiga pengembang sekaligus ini, pada dasarnya bukan untuk mengembangkan MW 3 menjadi sebuah game action shooter dengan lompatan jauh kedepan, semisal dalam hal gfx dan sound seperti yang ada di CRysis 2 Dx11 ataupun Battlefield 3 DX11. Namun, menurut penulis, kerjaan keroyokan itu semata-mata demi mempercepat proses pembuatan game COD 8 agar tepat waktu sesuai jadwal perilisan oleh ACtivision. Jadi bukan untuk memperindah kualitas suaranya, sebab di COD 8 ini segala/hampir semua efek suaranya (entah itu suara tembakan senjatanya, ledakannya, tiada pilihan fire of rate pula) hanya merupakan polesan atau remake dari seri modern warfare terdahulu, memang masih berkualitas bagus secara umum. Tapi sesungguhnya, terdengar tak begitu istimewa. Kecuali untuk pengisi suara para karakter utama maupun para NPC lainnya yang benar-benar bagus dan pas. SEgala dialog nya terdengar mantap sekali di telinga penulis.




GFX
Kualitas efek-efek suara yang tak berubah banyak daripada sebelumnya, entah mengapa juga berimbas pada kualitas gfx nya yang juga polesan dari gfx engine terdahulu, baik yang terdapat pada COD 6 dan COD 7. Padahal, COD 8 ini membutuhkan ruang instal di HDD sebesar 16gb, maklum game ini juga sudah mendukung penuh Dx10. Tapi, penulis melihat gfx game ini baik shader maupun texture-nya, terlihat biasa-biasa saja, malah gak memperlihatkan dengan jelas jika game ini sudah memakai Dx10. Tak kelihatan di mata penulis. Berbagi peta level emang berdesain variatif, dan sebagian kecilnya hanya merupakan remake dari satu peta level di COD 4. SEcara umum, gfx MW 3 memang bagus tapi takada yang istimewa disini. Dan, walaupun sedikit mengecewakan dalam hal kualitas gfx-nya, tapi bagi gamer yang masih memakai Hardware PC yang tak terlalu tinggi, apalgi bagi gamer yang masih memakai OS win xp sp3, maka akan tetap bisa menikmati gfx game ini secara penuh ketika memainkan game ini.

Pada iklan-iklan sebelumnya, sang pengembang menjanjikan akan ada kerusakan lingkungan yang besar-besaran di mode cerita kampanye COD 8. dan hasilnya memang benar, bahakn lebih banyak daripada yang penulis saksikan di mode SP BF 3. Akan tetapi, semua efek kerusakan lingkungan itu sudah diskenariokan oleh alur cerita yang ada, jadi kehancuran sebuah gedung di kota New York, atau runtuhnya menara Eiffle di Paris, ambruknya sebuah gedung ternama di Jerman, semua sudah di skenariokan, sama seperti apa yang terjadi di mode SP BF 3, pula.



REPLAYBILITY
Jantung utama dari game MW 3 ini terletak pada mode special ops nya yang bisa membantu gamer dalam berdapatasi dengan mode MP OL, tanpa harus online terlebih dahulu. Mode Spec ops nya, terlihat lebih bagus dan lebih menarik daripada mode special ops di seri Modern Warfare yang lama. Ada pengumpulan EXP point layaknya bermain game rpg shooter. Penulis merasa keasyikan untuk terus memainkan mode spec ops nya ini, hanya demi membuka beberapa jenis senjata dan untuk bisa di upgrade dengan gajet yang telah tersedia. SEjak seri keempat, game Call Of Duty ini lebih fokus ke mode MP OL-nya, jadi dengan mengijinkan mode special osp untuk bisa dimainkan secara offline bersama para AI team dan musuh, maka menajdi suatu nilai tambah tersendiri bagi mode SP di COD 8 ini. Andai DIce juga memberikan fitur yang sama seperti itu ke dalam BF 3-nya. Masih sama seperti dulu, pada mode cerita kampanye juga diberikan "misi sampingan" tuk mengumpulkan beberapa item intel penting yang tersebar di titik-titik tertentu, di setiap peta level yang ada di COD 8 ini. 




EPILOGUE
Mode cerita dan gameplay di mode SP offline, masih sebagus seperti Modern Warfare, gfx dan sound juga hanya berkualitas begitu-begitu saja, lalu ada penambahan variasi dalam mode special ops offline. Ditengah-tengah permasalahan internal yang parah, IW dan para pengembang lainnya telah melakukan pekerjaan-nya dengan upaya yang terbaik. COD 8 mungkin hanya akan menjadi standar game 1st person action shooter saja, tapi hasilnya pada beberapa sisi tetap terlihat lebih bagus daripada game-game lainnya yang sejenis.



============================================
Penilaian
============================================

Storyline----> 8
Salah satu sosok ikonik Modern Warfare telah tewas

Gameplay-----> 8
Menghabisi musuh dengan AC-130 Spectre Gunship masih mengasyikkan seperti dahulu

Sound--------> 7
Karakter suara si Kapten Price terlihat masih super mantap

Gfx-----> 7
Detail senjata SCAR-L terlihat lebih tajam

Replayability----> 9
Mode Special Ops mirip game RPG shooter

Total Skor = 7,8 


(+) :
- Kisah "trilogi" Modern Warfare yang berakhir klimaks
- GFx engine masih ramah terhadap hardware PC lama
- Mode SP masih terasa menggairahkan seperti dahulu
- Muncul beberapa gajet dan perk baru

(-) :
- sound engine sekilas hanya merupakan remake dan polesan semata dari seri terdahulu
- gfx engine COD 8 sudah mulai kelihatan menua

0 comments:

:nangis :rate :lebay :hoax :nyimak :hotnews :gotkp :wow :pertamax :lapar :santai :malu :ngintip :newyear

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons